Lalu Hendri Nuriskandar, S.H., LL.M – Penghulu KUA Kecamatan Utan
Dalam kehidupan masyarakat
modern, pernikahan sering kali dipandang sebagai ajang untuk menunjukkan
kemewahan. Pesta besar, dekorasi megah, busana mewah, hingga dokumentasi
lengkap seolah menjadi ukuran kesuksesan sebuah pernikahan. Namun, tidak semua
orang memiliki kemampuan dan keinginan untuk menggelar pesta yang besar. Ada
pula yang memilih menyederhanakan pernikahannya, menikah di Kantor Urusan Agama
(KUA) dengan penuh ketulusan dan kesadaran. Dan pilihan ini bukanlah pilihan
yang rendah justru pilihan yang mulia.
Menikah di KUA bukan berarti
pernikahan yang biasa-biasa
saja, apalagi tidak bermartabat. Justru, pernikahan di KUA
mengingatkan kita kepada makna asli pernikahan dalam Islam: sebuah
ikatan suci, diniatkan karena Allah, dijalankan dengan kesungguhan, serta
dilandasi rasa tanggung jawab dan saling mencintai.
Sah Secara Hukum,
Diakui Secara Agama, dan Membawa Berkah
Di KUA, akad nikah dilakukan
dengan tata cara agama yang benar, sesuai tuntunan syariat. Ijab kabul diucapkan dengan
penuh kesadaran. Saksi hadir untuk menguatkan ikatan. Ada catatan hukum yang
menjamin hak suami, istri, dan anak kelak. Tidak ada yang dirugikan. Tidak ada
yang terlepaskan.
Kesederhanaan dalam prosesi
itu bukan kekurangan. Justru di sanalah letak kedalaman dan keindahan
ibadah.
Kesederhanaan
Menghadirkan Keberkahan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik pernikahan adalah
yang paling mudah (biayanya).”
(HR. Ibnu Hibban)
Kesederhanaan bukan berarti
tidak mampu tetapi memilih untuk tidak membebani diri.
Tidak menumpuk utang.
Tidak memburu pujian manusia.
Tidak memaksakan gengsi.
Karena setelah hari
pernikahan, ada perjalanan hidup yang jauh lebih panjang:
membangun rumah tangga, menghadapi ujian, merawat rasa, dan tumbuh bersama.
Apa artinya pesta meriah jika
setelahnya suami istri hidup dalam tekanan keuangan?
Menikah di KUA Adalah
Pilihan Orang yang Sudah Dewasa
Hanya orang yang mengerti makna hidup
yang berani memilih kesederhanaan.
Yang hatinya tenang dan tidak terikat pada penilaian manusia.
Orang yang menikah di KUA
berkata dalam hatinya:
“Aku menikah karena Allah,
bukan karena harus dilihat banyak orang.”
Dan kalimat itu — adalah
kekuatan.
KUA: Rumah Pembinaan,
Bukan Sekadar Tempat Akad
KUA bukan hanya tempat
pencatatan nikah.
Ia adalah pusat pembinaan keluarga.
Tempat pasangan diberi pemahaman tentang tanggung jawab, kesetiaan, dan cara
menjaga cinta dalam rumah tangga.
Di sinilah keluarga sakinah
memulai langkahnya.
Kesimpulan: Kecil
Acaranya, Besar Nilai Ibadahnya
Pernikahan tidak diukur dari
mewah atau sederhana, besar atau kecil, ramai atau sepi.
Ia diukur dari ketulusan niat, keutuhan cinta, dan tanggung jawab setelahnya.
Menikah di KUA mengajarkan
kita satu pesan penting:
Bahwa pernikahan bukan tentang
bagaimana ia disaksikan dunia,
tetapi bagaimana ia diberkahi oleh Allah.
Biarkan cinta tumbuh
sederhana, tetapi mendalam.
Biarkan rumah tangga dibangun pelan, tetapi kuat.
Karena yang kita cari bukan tepuk tangan orang tapi ridha Tuhan.






0 comments:
Post a Comment