Monday, November 3, 2025

Menikah di KUA: Kecil Acaranya, Besar Nilai Ibadahnya

Lalu Hendri Nuriskandar, S.H., LL.M – Penghulu KUA Kecamatan Utan

Dalam kehidupan masyarakat modern, pernikahan sering kali dipandang sebagai ajang untuk menunjukkan kemewahan. Pesta besar, dekorasi megah, busana mewah, hingga dokumentasi lengkap seolah menjadi ukuran kesuksesan sebuah pernikahan. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan dan keinginan untuk menggelar pesta yang besar. Ada pula yang memilih menyederhanakan pernikahannya, menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) dengan penuh ketulusan dan kesadaran. Dan pilihan ini bukanlah pilihan yang rendah  justru pilihan yang mulia.

Menikah di KUA bukan berarti pernikahan yang biasa-biasa saja, apalagi tidak bermartabat. Justru, pernikahan di KUA mengingatkan kita kepada makna asli pernikahan dalam Islam: sebuah ikatan suci, diniatkan karena Allah, dijalankan dengan kesungguhan, serta dilandasi rasa tanggung jawab dan saling mencintai.

Sah Secara Hukum, Diakui Secara Agama, dan Membawa Berkah

Di KUA, akad nikah dilakukan dengan tata cara agama yang benar, sesuai tuntunan syariat. Ijab kabul diucapkan dengan penuh kesadaran. Saksi hadir untuk menguatkan ikatan. Ada catatan hukum yang menjamin hak suami, istri, dan anak kelak. Tidak ada yang dirugikan. Tidak ada yang terlepaskan.

Kesederhanaan dalam prosesi itu bukan kekurangan. Justru di sanalah letak kedalaman dan keindahan ibadah.

Kesederhanaan Menghadirkan Keberkahan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah (biayanya).”
(HR. Ibnu Hibban)

Kesederhanaan bukan berarti tidak mampu tetapi memilih untuk tidak membebani diri.
Tidak menumpuk utang.
Tidak memburu pujian manusia.
Tidak memaksakan gengsi.

Karena setelah hari pernikahan, ada perjalanan hidup yang jauh lebih panjang:
membangun rumah tangga, menghadapi ujian, merawat rasa, dan tumbuh bersama.

Apa artinya pesta meriah jika setelahnya suami istri hidup dalam tekanan keuangan?

Menikah di KUA Adalah Pilihan Orang yang Sudah Dewasa

Hanya orang yang mengerti makna hidup yang berani memilih kesederhanaan.
Yang hatinya tenang dan tidak terikat pada penilaian manusia.

Orang yang menikah di KUA berkata dalam hatinya:

“Aku menikah karena Allah, bukan karena harus dilihat banyak orang.”

Dan kalimat itu — adalah kekuatan.

KUA: Rumah Pembinaan, Bukan Sekadar Tempat Akad

KUA bukan hanya tempat pencatatan nikah.
Ia adalah pusat pembinaan keluarga.
Tempat pasangan diberi pemahaman tentang tanggung jawab, kesetiaan, dan cara menjaga cinta dalam rumah tangga.

Di sinilah keluarga sakinah memulai langkahnya.

Kesimpulan: Kecil Acaranya, Besar Nilai Ibadahnya

Pernikahan tidak diukur dari mewah atau sederhana, besar atau kecil, ramai atau sepi.
Ia diukur dari ketulusan niat, keutuhan cinta, dan tanggung jawab setelahnya.

Menikah di KUA mengajarkan kita satu pesan penting:

Bahwa pernikahan bukan tentang bagaimana ia disaksikan dunia,
tetapi bagaimana ia diberkahi oleh Allah.

Biarkan cinta tumbuh sederhana, tetapi mendalam.
Biarkan rumah tangga dibangun pelan, tetapi kuat.
Karena yang kita cari bukan tepuk tangan orang  tapi ridha Tuhan.

0 comments:

Post a Comment