Wednesday, November 5, 2025

Nikah Moderasi: Membentuk Keluarga Tanpa Berlebihan dalam Pesta dan Mahar

 Oleh: Lalu Hendri Nuriskandar, S.H. LL.M – Penghulu KUA Kecamatan Utan

Pernikahan adalah momen yang sakral dalam kehidupan seorang muslim. Ia bukan sekadar acara seremonial, tetapi perjanjian suci (mitsaqan ghalizha) yang mengikat dua insan untuk saling menguatkan dalam kebaikan. Namun, di tengah budaya modern dan tuntutan sosial saat ini, makna pernikahan sering kali bergeser menjadi ajang pamer kemewahan dan gengsi. Tidak sedikit pasangan yang menunda pernikahan hanya karena merasa tidak mampu memenuhi standar pesta besar atau mahar yang tinggi.

Islam adalah agama yang memuliakan kemudahan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik wanita adalah yang paling mudah maharnya.” (HR. Ahmad). Begitu pula, beliau memberi teladan bahwa walimah dapat dilakukan dengan sederhana, namun tetap penuh keberkahan. Artinya, ukuran kebahagiaan dalam pernikahan bukan pada megahnya pesta dan besarnya mahar, tetapi pada ketulusan niat dan kesiapan untuk membangun rumah tangga yang saling mendukung dalam kebaikan.

Kenapa Moderasi dalam Pernikahan Penting?

Moderasi pernikahan bukan hanya soal menekan biaya, tetapi juga mengembalikan ruh pernikahan kepada tujuannya yang murni. Ketika pesta terlalu berlebihan, fokus dapat bergeser dari inti pernikahan menuju penilaian manusia  siapa yang hadir, seberapa mewah dekorasinya, hingga apa menu yang disajikan. Padahal yang terpenting adalah restu, kebahagiaan, dan kesiapan mental pasangan.

Selain itu, tuntutan biaya yang tinggi sering kali menjadi hambatan bagi para pemuda dan pemudi untuk menikah. Tidak jarang, mereka terpaksa menunda pernikahan karena merasa "belum pantas" secara materi, padahal kesiapan ilmu dan akhlak justru lebih utama.

Mahar: Simbol Cinta, Bukan Beban

Mahar dalam Islam adalah bentuk penghargaan suami kepada istri, bukan harga diri istri yang harus ditinggikan atau ditawar. Ketika mahar ditetapkan terlalu tinggi, ia berpotensi menjadi beban dan sumber kekhawatiran. Mahar yang sederhana, namun bermakna, jauh lebih mendekatkan pasangan kepada ketenangan dan keberkahan.

Yang terpenting dari mahar adalah nilainya yang penuh cinta dan kerelaan, baik berupa cincin, mushaf, peralatan rumah tangga, atau ilmu agama yang bermanfaat.

KUA Sebagai Rumah Pembinaan Pernikahan Berkelanjutan

KUA melalui program Bimbingan Perkawinan, Bimbingan Keluarga Sakinah, dan layanan konsultasi, terus menguatkan pemahaman masyarakat bahwa pernikahan adalah perjalanan panjang yang memerlukan: Komitmen, Komunikasi yang sehat, Tanggung jawab dan Kesabaran dalam menghadapi dinamika rumah tangga. Pesta hanya berlangsung sehari. Tetapi kehidupan rumah tangga berlangsung sepanjang usia.

Menjadikan Pernikahan sebagai Awal Keberkahan

Mari bersama-sama membangun budaya baru: Budaya pernikahan yang sederhana, penuh makna, dan berkah.
Pesta boleh sederhana, tetapi cinta dan tekad membangun keluarga harus besar. Mahar boleh ringan, tetapi tanggung jawab dan kesetiaan harus kuat.

Karena sejatinya, kebahagiaan dalam rumah tangga bukan ditentukan oleh kemegahan acara pernikahan, melainkan oleh kedamaian hati di dalam rumah setelahnya.

0 comments:

Post a Comment